Di penghujung senja yang mulai berpamitan, kebersamaan yang terjalin perlahan memudar. Ada kisah kasih yang tersisa antara dua insan, terukir dalam bait-bait sederhana yang coba dirajut dari keterbatasan akal. Penulis, dengan bekal yang terbatas, berusaha melukiskan sepenggal cinta di sebuah negeri yang mungkin belum seberlimpah susu dan madu.
Masa-masa berteduh di bawah birunya langit, merasakan sengat mentari di tanah Tanjung, dan berlindung di balik dinding putih yang mulai lapuk, menjadi saksi bisu terukirnya sejuta rasa dan beribu kasih. Pengalaman ini membentuk pribadi yang utuh, meski dalam keterbatasan.
Ketika langkah pertama diayunkan, jiwa terasa hampa dan gelap gulita. Namun, kehadiran sosok pendidik yang bersemangat bagaikan lentera, menerangi jalan dengan ilmu. Mereka membimbing, mengasah, dan mengasuh, mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan yang berharga.
Semangat juang para pendidik itu begitu tegar. Nasihat mereka menjadi dorongan untuk terus melangkah melawan waktu, yang terus berjalan seperti pedang bermata dua. Mata yang berbinar indah dan senyum yang merona dari para pendidik memberikan ribuan asa dalam diri setiap anak didik.
Kini, langkah kaki harus terayun pergi, mengejar bintang yang semakin jauh. Hati dipenuhi luka dan kesedihan saat salam perpisahan terucap. Namun, tekad untuk terus berjuang takkan pernah padam, meski badai menerpa di tengah perjalanan menggapai cita-cita.


