**Senja Membawa Renungan: Puisi Sultan Musa Memukau Penggemar Sastra**
Dunia sastra kembali dihangatkan oleh karya-karya indah dari Sultan Musa, seorang penulis berbakat asal Samarinda, Kalimantan Timur. Melalui goresan penanya, ia berhasil menangkap pesona senja dan merefleksikannya dalam bait-bait puisi yang menyentuh hati. Karya-karyanya telah tersebar luas, baik di media daring maupun luring, serta turut menghiasi berbagai antologi puisi bergengsi.
Puisi terbaru Sultan Musa menghadirkan suasana senja yang memesona, di mana dua insan duduk bersama meresapi keindahannya. Momen tersebut menjadi sarana untuk berbagi cerita, sebuah dialog yang diibaratkan sebagai “ia memberi lena tanpa balas luka”. Nuansa senja yang digambarkan dalam puisi ini penuh ketenangan, tanpa dendam, hanya kenangan manis yang tidak menyakiti.
Senja ini hanya diam, tidak mendendam.
Senja ini hanya kenangan, tidak menyimpan.
Senja ini hanya rasa, tidak melukai.
Senja ini hanya tenggelam, tak menjauh.
Namun, di tengah ketenangan itu, muncul pertanyaan menggugah: “lalu kenapa tercabik saat senja senyap ibarat cerita yang terlewatkan dan dipasung untuk menyaksikannya.” Pertanyaan ini menyiratkan adanya keraguan dan kesedihan yang tersembunyi, sebuah kontras yang membuat puisi ini semakin mendalam.
Kita takkan bisa mencumbu rindu bila hanya sebatas ragu.
Kita takkan bisa membelai senja bila hanya sebatas lara.
Meskipun diwarnai keraguan, harapan tetap ada. Puisi ini kemudian mengajak pembaca untuk “mengikat senar senja yang berlabuh berkat senyuman tak terduga bersauh, meski ceritanya terkadang rapuh”. Sebuah penutup yang memberikan kesan bahwa keindahan senja dan kedekatan emosional dapat terjalin, sekalipun diwarnai oleh kerapuhan.
Kita menggelayut. Titik! 2024.
**Perjalanan Sastra Sultan Musa yang Gemilang**
Sultan Musa bukan nama baru dalam kancah sastra. Penulis asal Samarinda, Kalimantan Timur ini, telah menorehkan jejak yang signifikan melalui karya-karyanya yang tersebar di berbagai platform. Kiprahnya dalam dunia kepenulisan semakin mengukuhkannya sebagai salah satu sastrawan yang patut diperhitungkan.
Karya-karya Sultan Musa tidak hanya hadir dalam bentuk tunggal, namun juga telah menjadi bagian dari berbagai antologi puisi. Keikutsertaannya dalam antologi bersama para penyair nasional dan internasional menunjukkan kualitas tulisannya yang diakui secara luas.
Beberapa antologi bergengsi yang turut memuat karyanya antara lain:
* “Wangian Kembang: Antologi Puisi Sempena Konvesyen Penyair Dunia – KONPEN” (2018) yang digagas oleh Persatuan Penyair Malaysia.
* Antologi Puisi “Negeri Serumpun” Khas Sempena Pertemuan Dunia Melayu GAPENA & MBMKB (2020).
* “La Antologia De Poesia Cultural Argentina – Indonesia” atau Antologi Puisi Budaya Argentina – Indonesia (2021).
* Antologi Puisi “Cakerawala Islam” yang diselenggarakan oleh MAIK – Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan – Malaysia (2022).
Selain itu, Sultan Musa juga aktif berpartisipasi dalam berbagai festival sastra, seperti Festival Sastra Internasional Gunung Bintan – Jazirah (2019, 2020, 2021, 2022, 2023) dan Temu Karya Serumpun “Tanah Tenggara” Asia Tenggara (2023). Namanya juga tercatat dalam publikasi bergengsi seperti HOMAGI – International Literary Magazine dan buku “Apa & Siapa Penyair Indonesia” oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia (2017). Penggemar sastra dapat terhubung dengannya melalui akun Instagram @sultanmusa97.


